Senin, 24 Mei 2010
Dampak Gizi dan Kesehatan Pada Pangan Transgenik
Varietas padi yang telah mengalami modifikasi genetik akan menghasilkan beras yang mengandung beta-karoten yang dibutuhkan dalam perbaikan gizi negara-negara sedang berkembang. Oleh sebab itu, dikembangkannya beras kaya beta-karoten akan mempercepat pemulihan kondisi kurang gizi yang diderita masyarakat. Kedelai sebagai bahan baku minyak goreng direkayasa sehingga kandungan lemak jenuhnya menjadi lebih rendah dan meningkat kandungan lemak tak jenuhnya, terutama asam lemak oleat. Karakteristik gizi yang lebih baik ini akan bermanfaat untuk menangkal risiko kolesterol tinggi atau penyakit jantung koroner. Jadi, dalam hal ini peran kedelai sebagai bahan baku pangan fungsional semakin meningkat.
Upaya menghasilkan beras transgenik yang rendah glutelin ternyata pada saat bersamaan memunculkan karateristik lain, yaitu meningkatnya kandungan prolamin. Rendahnya glutelin berdampak positip pada protein yang tersimpan pada beras (rice protein storage). Namun, meningkatnya prolamin akan mengakibatkan perubahan kualitas gizi dan bahaya alergi bagi siapa pun yang mengonsumsinya.
Upaya untuk memperbaiki mutu gizi pangan melalui modifikasi genetik seyogianya harus meminimumkan kemungkinan munculnya zat gizi/nongizi lain yang tidak dikehendaki. Kalau saat ini telah dapat dihasilkan kedelai kaya lysine (salah satu asam amino esensial), maka ternyata dampak ikutannya adalah kadar lemak kedelai menjadi turun. Demikian pula beras kaya beta-karoten, menghasilkan karakteristik ikutan berupa meningkatnya xantophyll.
Diperlukan kesiapan perangkat lunak dan perangkat keras untuk menguji keamanan pangan dan dampak kesehatan yang mungkin muncul akibat membanjirnya pangan rekayasa genetika di masa-masa yang akan datang.
Untuk mengetahui perubahan karateristik kimiawi yang terjadi pada pangan transgenik diperlukan alat deteksi gizi yang canggih. Pada kasus beras rendah glutelin, meningkatnya kadar prolamin yang tidak dikehendaki sulit dideteksi dengan analisis gizi biasa, seperti yang digunakan untuk mengetahui kandungan protein total dan profil asam amino.
Prolamin baru akan kelihatan bila dianalisis dengan SDS gel electrophoresis. Sementara, munculnya xantophyll pada beras kaya beta-karoten bisa dideteksi dengan analisis HPLC. Jadi, penting untuk diperhatikan bahwa analisis gizi yang tepat diperlukan untuk mendeteksi perubahan-perubahan yang tidak diharapkan pada pangan transgenik.
Dampak yang pertama, terkait dengan terjadinya perubahan zat gizi yang dikehendaki pada pangan rekayasa genetika. Yang kedua, berhubungan dengan masalah munculnya/meningkatnya komponen kimiawi lain yang tidak dikehendaki sebagai akibat ikutan dilakukannya modifikasi genetik. Untuk itu diperlukan ahli toksikologi dan ahli gizi untuk mengevaluasi potensi gangguan kesehatan yang mungkin muncul apabila seseorang mengonsumsi pangan transgenik.
Mungkin sekali bahwa perubahan kadar gizi ini bukan hanya akibat proses rekayasa genetik, tetapi juga akibat proses pemuliaan tanaman secara konvensional, seperti ketika kita menghasilkan semangka tanpa biji. Pada intinya, kemajuan teknologi mungkin tidak bisa dihambat, namun yang lebih penting dan lebih bijaksana adalah pemanfaatan teknologi tinggi ini jangan sampai membahayakan masyarakat.
Konsumen perlu menyadari bahwa pangan transgenik, yang mempunyai kandungan gizi berbeda dengan pangan nontransgenik, akan ikut menentukan status gizi seseorang. Dengan rekayasa genetik dapat dihasilkan kedelai dengan kandungan asam lemak oleat 80-90 persen. Selama ini kita mengenal sumber oleat yang tinggi adalah zaitun (70%). Selanjutnya, kedelai menjadi bahan baku pangan sehari-hari, misalnya untuk industri minyak goreng, tahu, dan tempe. Hal ini memunculkan pertanyaan, adakah kemungkinan masyarakat konsumen kedelai akan mengonsumsi gizi oleat secara berlebihan? Mungkin sekali pola makan masyarakat tidak berubah, namun dengan dikenalkannya produk pangan transgenik, maka komposisi gizi yang masuk ke dalam tubuhnya sudah berubah.
Mengingat teknologi modifikasi genetik masih relatif baru, maka hasil-hasil temuannya memunculkan pro-kontra di mana-mana. Yang penting adalah bahwa riset-riset harus tetap diteruskan agar hasil teknologi baru ini bisa bermanfaat bagi umat manusia. Meningkatnya kandungan gizi pada produk transgenik tidak begitu saja dapat dipakai sebagai tolok ukur keberhasilan. Perlu juga diteliti apakah zat gizi tersebut tetap stabil seiring dengan berjalannya waktu akibat penyimpanan dan pemrosesan.
Dalam kasus tanaman kedelai yang tahan glyphosate (herbisida), maka sebenarnya yang dilakukan adalah memasukkan protein baru (atau enzim). Datangnya protein baru ini berpotensi untuk menyebabkan alergi.
Dikatakan bahwa kita setiap hari terekspos dengan DNA (pembawa sifat pada gen) asing yang berasal dari makanan yang kita konsumsi, dan dari mikroorganisme di sekitar lingkungan kita. DNA bukanlah substansi kimiawi yang bersifat racun.
Fakta bahwa saluran cerna manusia merupakan sistem yang efisien. DNA yang masuk ke saluran cerna segera dipecah-pecah sehingga menjadi bagian yang sangat kecil dan sulit untuk difungsikan kembali. Dengan demikian, DNA diperkirakan tidak akan masuk ke dalam sel manusia, meski pecahan-pecahan DNA tadi mungkin diserap oleh bakteri di saluran cerna.
Deteksi bahwa pangan transgenik akan menyebabkan penyakit kronis (kanker, hipertensi, penyakit jantung koroner) perlu dilakukan untuk menjamin bahwa konsumen tidak semakin menghadapi risiko kesehatan yang tidak diinginkan.
Publikasi FAO/WHO (2000), antara lain menyimpulkan bahwa masalah yang mungkin muncul dari dampak jangka panjang konsumsi pangan yang dimodifikasi gennya, masih sangat sedikit diketahui. Oleh sebab itu, tepat kiranya kalau pemerintah harus bersiap diri merumuskan kebijakan yang tidak sekadar melarang atau membolehkan masuknya pangan transgenik. Diperlukan pula alasan-alasan ilmiah yang valid yang melandasi dikeluarkannya suatu kebijakan menyangkut pangan transgenik ini.
Senin, 01 Juni 2009
Biologi Bunga
Perkembangbiakan dalam tanaman dibagi menjadi menjadi dua yaitu vegetatif dan generatif. Perkembang biakan generatif dalam tanaman dicirikan dengan adanya proses pembuahan yang kemudian membentuk zigot. Zigot tersebut yang berkebang menjadi embrio yang terdapat dalam biji. Proses pembentukan biji tersebut berada dalam organ tanaman yang dinamakan bunga (Tjitrosomo, 1983). Berdasarkan beberapa penelitian lebih lanjut menunjukkan:
- Bunga dapat terletak di ujung batang atau cabang dan ketiak daun, yang letaknya sama dengan tempat tunas yang akantumbuh menjadicabang.
- Bagian-bagian bunga (kelopak, tajuk, benang sari, putik) kadang-kadang dapat menyerupai daun biasa dengan perbedaan sedikit sampai besar sekali.
- Pada ketiak daun kelopak atau daun tajuk kadang-kadang dapatmembentuk sebuah kuncup.
- Kadang-kadang bunga dapat membentuk biasa yang berdaun.
Bunga sebagai organ reproduksi memiliki dua bagian penting untuk proses perkembangbiakan yaitu benag sari dan putik (Tjitrosomo, 1983), meskipun demikian bunga dapat memiliki beberapa bagian lain yang memiliki fungsi khusus. Berdasarkan strukturnya bunga terbagi menjadi dua yaitu:
- Bunga lengkap
- Bunga tidak lengkap
Pembagian bunga berdasarkan struktur didasarkan kelengkapan bagian bunga yang dimiliki. Bunga lengkap memiliki empat bagian utama yaitu:
- Kelopak (calyx)
- Tajuk atau mahkota (corolla)
- Benang sari (stamen)
- Putik (pistillum) (Darjanto, 1990)
Benang sari dan putik merupakan komponen utama dalam penyerbukan dalam bunga. Benang sari dan putik itu sendiri terdapat dalam bunga sehingga dapat dikatakan bahwa bunga merupakan alat perkembangbiakan generatif bagi tanaman (Sunarto, 1997). Oleh karena itu bunga dapat dibagi berdasarkan kelengkapan alat kelaminnya menjadi:
- Bunga sempurna
- Bunga tidak sempurna
Bunga sempurna merupakan bunga yang memiliki benang sari dan putik. Benang sari setiap tanaman memiliki jumlah dan ukuran tersendiri pada tiap spesies tanaman. Berikut data jumlah benang sari pada beberapa jenis tanaman.
| Nama Indonesia | Nama latin | Jumlah benang sari |
| Anggrek Dendrobium Jagung Tomat Kelapa | Dendrobium crumenatum Swartza. Zea mays L. Solanum lycopersicum L. Cocos nucifera L. | 1 3 5 6 |
(Darjanto, 1990)
Prses penyerbukan dalam tanaman dapat dibagi menjadi dua yaitu penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang. Penyerbukan sendiri (self pollination) terjadi apabila perpindahan tersebut terjadi pada satu bunga atau bunga lain pada satu tanaman. Sedangkan penyerbukan silang (cross pollination) terjadi bila serbuk sari berasal dari bunga tanamn lain.
Beberapa bunga memiliki ciri morfologi khusus pada tiap spesiesnya yang mengakibatkan perbedaan proses penyerbukan. Secara umum proses penyerbukan pada tanaman dipengaruhi oleh beberapa proses sebagai berikut:
- Penyerbukan tertutup atau kleistogami (cleistogamie) yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga masih kuncup. Proses penyerbukan biasanya berupa autogamie.
2. Penyerbukan terbuka atau kasmogami (chasmogamie) yaitu proses penyerbukan bunga yang terjadi ketika bunga telah mekar. Proses penyerbukan ini dapat meyebabkan tanaman melakukan autogamie, geitonogamie, allogamie, dan xenogamie.
3. Diogamie (dichogamie) merupakan proses masaknya putik dan serbuk sari secara tidak bersamaan.
4. Herkogami (herkogamie) bunga dimana letak kepala sari dan putik saling berjauhan sehingga sulit mengalami penyerbukan sendiri
5. Heterostili (heterostylie) merupakan bunga yang memiliki panjang putik dan benang sari berbeda-beda.
6. Anemofili (anemophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh angin.
7. Entomofili (enthomophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh serangga.
8. Ornitofili (ornithophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh burung.
9. Kiropterofili (chiropterophilie) merupakan bunga yang penyerbukan dibantu oleh kelelawar. (Darjanto, 1990)
